Perbedaan antara motivasi dan pamer itu ternyata beda tipis ya.
“Saya Indah dari Fakultas Psikologi.”
Dibilang bangga, yah bangga lah saya. Saya dapet itu susah payah. Biar dikata kampusnya jauh dari peradaban, tetap saya bangga. Itu favorit loh. Susah loh dapetnya. Setengah mati. Yang kayak gitu dijadiin cadangan. Dimana coba rasa bersyukurnya. Bersyukur? Iya lah bersyukur. Orang tua mana yang ngga bangga? Pasti bangga karena didikannya selama ini dia bisa bikin anaknya sukses. Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya lebih dari diri mereka. Begitu yang dikatakan kedua orang tua saya.
“Masih minat Arsitek ndah?”“Masih lah.”
“Masih obsesi FSRD ndah? Apa DKV?”“Masih.”
“Masih kepengen ITB ndah?”“Masih.”“Ngga nyoba lagi tahun ini?”“Pernah belajar bersyukur ngga?”“…………………….”
“Pernah belajar bersyukur ngga?” Saya rasa pertanyaan itu lumayan menohok. Karena rata-rata setiap orang yang saya lemparkan pertanyaan itu pasti terdiam. Memang itu saya mengutip perkataan teman-teman saya. Biarlah itu jadi rezeki orang lain. Sudah dikasih nikmat, kok malah ditolak. Tuhan yang di atas sana pasti geleng-geleng kepala punya makhluk yang kayak gitu. ”Dikasih nikmat kok ditolak,” begitu mungkin kata Tuhan.
Dibilang masih kepengen arsitek saya jelas mau. Program yang saya jalankan sekarang sama sekali berbeda jauh dengan apa yang saya inginkan. Saya masih ingin mengejar cita-cita saya. Tapi sayangnya, sudah di gariskan sama Yang Di Atas saya harus jadi psikolog buka jadi arsitek. Mungkin bila saya menolak program yang saya jalankan ini dan memaksakan kehendak buat ke arsitek, saya ngga akan seperti ini. Ngga akan bisa haha-hihi, cengar-cengir, cengengesan karena suntuk sama angka. Kalau kata orang tua saya, orang tua saya mampu membiayai saya di sini. Kalau saya misalnya di ITB, belum tentu ada rezekinya. Belum tentu rezeki orang tua saya selancar saya di sini. Begitu kata-kata yang selalu ditekankan kedua orang tua saya. Dan saya mengiyakan kata-kata mereka.
Sebenarnya yang kita kejar itu apa? Masa depan? Sukses? PTN favorit? Jurusan favorit? Cita-cita? Obsesi? Atau profesi? Sukses bisa lewat mana saja bung.
“Banyak jalan menuju sukses.”
Meskipun terdengar klise, statement itu ada benarnya loh. Buat jadi dokter misalnya. Haruskah dari FK UI? Tidak juga. Coba kalian ke rumah sakit. Tanya ke semua dokter disitu. Apakah mereka lulusan UI? Tidak semua kan? Tapi mereka semua bisa praktek disitu. Sukses? Well itu tergantung mereka bagaimana. Apa pengen UInya aja? Kalo gitu jurusan apa saja tidak masalah dong? Yang penting UI kan? Apa yang penting jakunnya? Kalo yang penting jadi dokternya, ngga mesti UI kan? Yang penting jadi dokter. Terserah dari mana aja. Mau dari perguruan tinggi lain selain UI atau swasta. Ini salah satu yang diterapkan teman saya. Saya tahu betapa terobsesinya dia untuk menjadi dokter. Segala macam tes sudah dicoba tetapi mungkin bukan rezekinya. Sampai pada akhirnya dia sadar, bahwa jadi dokter tidaklah harus dari perguruan tinggi terkemuka. Menuntut ilmu di perguruan tinggi yang terkemuka tidak jaminan anda akan sukses juga ke depannya. Tergantung bagaimana anda menjalankannya. Selalu ingat kata-kata, “Manusia boleh berencana tetapi Tuhan yang menentukan.” Kita boleh berencana seperti apapun, sedetail apapun, sejauh apapun, tapi realisasinya? Biar Tuhan yang menentukan.
Ngga keterima PTN bukan berarti hidup lo berakhir! Ngga dapet PTN bukan berarti lo mati! Justru itu malah jalan lain menuju sukses. Masih ada PTS yang bisa lo tempatin buat kuliah. Lo bisa kursus masak, kursus menjahit atau kursus yang lain. Lo juga bisa kerja, bikin usaha, dagang, jualan atau apalah itu. Justru lo malah punya waktu lebih untuk instropeksi, untuk belajar lebih dan untuk melakukan hal-hal lain yang bermanfaat. Temen gue ada yang kayak gini. Dia kerja sekarang. Alhamdulillah kerjanya sukses. Dia juga sambil nabung untuk ikut tes STK tahun depannya. Saya sangat mengagumi semangatnya. Saya benar-benar salut sama dia.
“2011? Sukses! Sukses! Sukses!”
Itu jargon yang saya buat untuk adik-adik kelas saya. Semoga apa yang tadi kalian teriakkan, kalian camkan dalam hati kalian. Sehingga hal itu benar-benar terealisasikan. Semoga sukses!
p.s. Apa yang saya tulis di sini hanya sekedar pendapat saya. Saya hanya ingin menyuarakan apa yang ada di dalam benak saya. Pengennya sih secara vokal. Tapi berhubung tidak ada waktu jadi lewat media ini. Maaf bila ada pihak yang tersinggung.
No comments:
Post a Comment