January 24, 2011

What I Miss

Maybe this sounds weird but, I MISS JATINANGOR! Yeah sounds silly, right? But I do really miss that little city. Ah I usually call 'village' or 'mountain' haha.

Saya rindu banyak hal dari sana. Saya rindu makan di kantin super murah. Saya rindu dengan 'harga mahasiswa.' Saya rindu karaokean murah. Saya rindu nonton bioskop sepuluh ribu. Saya rindu Jatos! Haha. Biar dikata mall cuma satu, biar dikata mallnya abal, tapi itu one stop entertainment saya di kala jenuh melanda. Saya rindu kemana-mana naik angkot sekali dan hanya seribu rupiah, makan siang tidak lebih dari lima ribu rupiah, kantin jujur yang kece, kemana-mana jalan kaki oke, udara yang tidak sepanas Jakarta dan lain-lain. Yang lebih penting lagi, saya rindu teman-teman saya. Saya rindu berkumpul di Aufaa No. 19. Saya rindu melakukan ritual 'kamar galau.' Saya rindu kidney to kidney session bersama teman-teman saya. Saya rindu suasana kampus yang sejuk. Saya rindu Padja. Saya rindu Saman. Saya rindu suasana kuliah yang cacat bersama teman-teman saya. Dan yah, saya rindu di jemput di Sastra setiap pagi sebelum kuliah. See? Many things I miss from this little city.




Banyak orang, dan teman-teman saya, yang tidak ingin liburan ini berakhir. Saya juga sesungguhnya. Saya rindu Jakarta. Rindu mallnya, rindu macetnya, rindu hiruk pikuknya, rindu keramaiannya, rindu kesibukannya dan lain-lain. Saya senang liburan. Saya senang berada di Jakarta. Saya senang kembali ke kampung halaman saya. Tapi saya merasa ada dunia saya yang tertinggal di kota kecil yang jauh peradaban itu. Yah memang tidak jauh dari peradaban banget sih. But I usually call it like that ;) Saya seakan memiliki dunia sendiri di sana. Dunia milik saya yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain di luar itu. Dunia yang sepenuhnya berbeda dengan Jakarta.

Saya mulai merasa betah di kota rantauan saya itu. Saya mulai menyukai apa yang ada di sana. Saya mulai mensyukuri mengapa saya dikasih rezeki oleh Yang Di Atas untuk berkuliah di sana. Saya belajar lebih dewasa di sana. Saya belajar hidup mandiri. Saya belajar melawan hawa nafsu. Saya belajar menghargai uang. Saya belajar menghargai waktu. Saya belajar menghargai orang lain. Saya belajar menghargai diri sendiri. Meskipun jauh dari orang tua bukan berarti saya bisa melakukan semua hal yang saya inginkan. Maka dari itu saya belajar menghargai diri sendiri.

Banyak pelajaran yang saya dapat dengan merantau di kota orang. Ini memang kemauan saya melanjutkan pendidikan di luar Jakarta. Meskipun pada awalnya terasa berat, meskipun pada awalnya rasanya ingin pulang terus, tapi akhirnya saya bisa menikmatinya. Bahkan mensyukurinya.

Terima kasih Tuhan, sudah memberikan saya nikmat berkuliah di Jatinangor. Terima kasih Tuhan, sudah memberikan saya banyak pelajaran. Terima kasih Tuhan, sudah memberikan teman-teman yang hebat. Terima kasih atas segalanya Ya Tuhan. 

Terima Kasih

No comments:

Post a Comment