Seorang leader seharusnya menjadi contoh bagi anggotanya. Tapi, bagaimana jika anggotanya tidak mencontoh leadernya? Okey mungkin terdengar agak kasar. Statementnya akan saya ganti. Tapi, bagaimana jika anggotanya tidak memiliki keinginan untuk mencontoh leadernya? Bagaimana jika anda adalah leadernya? Apa yang akan anda lakukan?
Sebagai seorang leader, anda sudah mencoba untuk memberikan contoh yang baik. Tepat waktu misalnya. Anda sudah mencoba untuk selalu datang tepat waktu. Tapi, bagaimana dengan anggota anda? Apakah mereka juga datang tepat waktu atau bahkan menunggu anda sebagai leader mereka? Apa yang akan anda lakukan jika mereka tidak datang tepat waktu? Langsung memarahi mereka kah? Ataukah hanya diam saja melihatnya dan meneriakkan berkali-kali dalam hati anda bahwa jam karet adalah budaya Indonesia?
Sekarang bagaimana kalau kondisinya diputar balikkan. Anda adalah anggotanya. Apakah ada perasaan tak nyaman ketika mendapati leader anda menunggu anda? Apakah ada perasaan menyesal dalam diri anda? Ataukah anda hanya mengatakan dalam hati saja atau langsung ke leader anda bahwa terlambat adalah hal wajar dan salah satu dari budaya Indonesia?
Bagaimana jika anda, sebagai seorang leader, mengadakan pertemuan dan tidak ada anggota anda yang datang atau sekedar setor muka lalu pergi lagi? Hanya anda dan notulen anda yang datang. Apa yang anda lakukan? Anda merasa bahwa semua anggota anda sudah dikabari bahwa ada pertemuan pada hari itu. Anda sendiri bertanya-tanya pada hati anda sendiri. Anda juga bertanya-tanya mengapa tak ada satu kabar pun yang masuk mengenai ketidakhadiran anggota anda. Apakah anda sudah mengabarinya dengan jelas ataukah tidak? Apakah ada kabar yang hilang ditengah jalan? Apa yang anda rasakan? Kecewa kah? Marah kah? Sakit hati kah?
Mari kita balikkan lagi. Jika anda adalah anggotanya. Apa yang anda lakukan? Apakah anda akan mengabari leader anda mengenai ketidakhadiran anda? Atau merasa tidak penting untuk memberi kabar kepada leader anda mengenai ketidakhadiran anda? Atau bahkan anda terpengaruh teman anda? Karena dia tidak hadir, anda pun tidak hadir. Dengan argumen dalam hati anda, ‘Toh dia juga ngga masuk. Kan ada temennya.’
Siapa yang salah dalam kondisi itu? Leadernya kah? Anggotanya kah? Atau mungkin komunikasinya? Bagaimana menurut anda?
Sebagai seorang leader, anda sudah mencoba untuk memberikan contoh yang baik. Tepat waktu misalnya. Anda sudah mencoba untuk selalu datang tepat waktu. Tapi, bagaimana dengan anggota anda? Apakah mereka juga datang tepat waktu atau bahkan menunggu anda sebagai leader mereka? Apa yang akan anda lakukan jika mereka tidak datang tepat waktu? Langsung memarahi mereka kah? Ataukah hanya diam saja melihatnya dan meneriakkan berkali-kali dalam hati anda bahwa jam karet adalah budaya Indonesia?
Sekarang bagaimana kalau kondisinya diputar balikkan. Anda adalah anggotanya. Apakah ada perasaan tak nyaman ketika mendapati leader anda menunggu anda? Apakah ada perasaan menyesal dalam diri anda? Ataukah anda hanya mengatakan dalam hati saja atau langsung ke leader anda bahwa terlambat adalah hal wajar dan salah satu dari budaya Indonesia?
Bagaimana jika anda, sebagai seorang leader, mengadakan pertemuan dan tidak ada anggota anda yang datang atau sekedar setor muka lalu pergi lagi? Hanya anda dan notulen anda yang datang. Apa yang anda lakukan? Anda merasa bahwa semua anggota anda sudah dikabari bahwa ada pertemuan pada hari itu. Anda sendiri bertanya-tanya pada hati anda sendiri. Anda juga bertanya-tanya mengapa tak ada satu kabar pun yang masuk mengenai ketidakhadiran anggota anda. Apakah anda sudah mengabarinya dengan jelas ataukah tidak? Apakah ada kabar yang hilang ditengah jalan? Apa yang anda rasakan? Kecewa kah? Marah kah? Sakit hati kah?
Mari kita balikkan lagi. Jika anda adalah anggotanya. Apa yang anda lakukan? Apakah anda akan mengabari leader anda mengenai ketidakhadiran anda? Atau merasa tidak penting untuk memberi kabar kepada leader anda mengenai ketidakhadiran anda? Atau bahkan anda terpengaruh teman anda? Karena dia tidak hadir, anda pun tidak hadir. Dengan argumen dalam hati anda, ‘Toh dia juga ngga masuk. Kan ada temennya.’
Siapa yang salah dalam kondisi itu? Leadernya kah? Anggotanya kah? Atau mungkin komunikasinya? Bagaimana menurut anda?
No comments:
Post a Comment