Eits, janganlah anda mengira bahwa saya sedang patah hati atau apalah itu. Ataukah saya sedang putus cinta atau putus hubungan dengan seorang makhluk yang kita katakan pacar. Sama sekali tidak.
Saya tidak patah hati.
Saya tidak sakit hati.
Saya tidak putus cinta.
Yah sesungguhnya, saya sendiri tidak memiliki apa yang kalian katakan pacar.
Saya hanya bertanya-tanya sendiri. Mengapa satu kata, dua suku kata, dan lima huruf itu bisa menjadi sesakral itu? Bila kata itu terucap, semua rasa sayang dan rasa (yang katanya) cinta bisa lenyap begitu saja. Entah itu diucapkan dengan lisan atau ditulis dalam kata-kata.
Sesungguhnya, saya sangat terheran-heran dengan teman lama saya. Tampaknya saya tak perlu menyebutkan namanya. Saya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya dengan dia.
Dia, katanya, sedang ada masalah dengan pacarnya. Inginnya putus, tapi katanya nanggung sebentar lagi dua bulanan. Dia pun terlibat konflik dengan pacarnya via layanan pesan singkat. Klasik? Hmm ngga gentle mungkin lebih tepat.
Mungkin karena dia sudah bosan menanggapi pacarnya tersebut, akhirnya dia menyerahkan hpnya ke teman saya. Sehingga saya dan teman sayalah yang membalas pesan singkat pacarnya tersebut.
Tak lama saya dan teman saya asyik berusaha membuat mereka untuk putus, saya pun mencoba bertanya kepada dia.
Saya: Lo kenapa sih nyeleseinnya lewat sms? Telfon kek. Ketemu kek. Asli deh ga gentle banget lo
Dia: Sumpah gua udah pernah yah ngajak dia ketemu. Pasti ga dateng. Kalo gua samperin ke rumahnya, kakaknya yang keluar. Kan ngeselin.
Saya: Tapi tetep aja masalah kayak gini harus diselesein face-to-face. Ga lewat sms gini tau.
Dia: Iya gua ngerti. Tapi gimana dong. Udah dicoba tetep aja begitu. Lagipula yah, gua ga bisa marah dah ama cewek. Serius.
Lalu salah satu teman saya berkata, "Yah ga bisa gitu dong. Lo mesti gentle. Ga kayak gini tau nyeleseinnya."
Teman saya yang satu lagi berkata, "Udah kek putusin aja. Lo sebagai calon imam dalam keluarga harus bisa ngambil keputusan dong."
Setelah saya pikir-pikir, menurut sudut pandang saya, si pacarnya lah yang salah. Ya iyalah orang diajak nyelesein baik-baik malah nolak. Dan tampaknya pacarnya itu sangatlah manja. Saya jadi gerah lama-lama.
Akhirnya setelah perdebatan sengit antara saya dan dia, kata putus itu akhirnya keluar juga.
Kata putus bukanlah akhir dari sebuah hubungan. Melainkan awal dalam menciptakan suatu hubungan. Yakni pertemanan. Time to make friends guys!
Saya tidak patah hati.
Saya tidak sakit hati.
Saya tidak putus cinta.
Yah sesungguhnya, saya sendiri tidak memiliki apa yang kalian katakan pacar.
Saya hanya bertanya-tanya sendiri. Mengapa satu kata, dua suku kata, dan lima huruf itu bisa menjadi sesakral itu? Bila kata itu terucap, semua rasa sayang dan rasa (yang katanya) cinta bisa lenyap begitu saja. Entah itu diucapkan dengan lisan atau ditulis dalam kata-kata.
Sesungguhnya, saya sangat terheran-heran dengan teman lama saya. Tampaknya saya tak perlu menyebutkan namanya. Saya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya dengan dia.
Dia, katanya, sedang ada masalah dengan pacarnya. Inginnya putus, tapi katanya nanggung sebentar lagi dua bulanan. Dia pun terlibat konflik dengan pacarnya via layanan pesan singkat. Klasik? Hmm ngga gentle mungkin lebih tepat.
Mungkin karena dia sudah bosan menanggapi pacarnya tersebut, akhirnya dia menyerahkan hpnya ke teman saya. Sehingga saya dan teman sayalah yang membalas pesan singkat pacarnya tersebut.
Tak lama saya dan teman saya asyik berusaha membuat mereka untuk putus, saya pun mencoba bertanya kepada dia.
Saya: Lo kenapa sih nyeleseinnya lewat sms? Telfon kek. Ketemu kek. Asli deh ga gentle banget lo
Dia: Sumpah gua udah pernah yah ngajak dia ketemu. Pasti ga dateng. Kalo gua samperin ke rumahnya, kakaknya yang keluar. Kan ngeselin.
Saya: Tapi tetep aja masalah kayak gini harus diselesein face-to-face. Ga lewat sms gini tau.
Dia: Iya gua ngerti. Tapi gimana dong. Udah dicoba tetep aja begitu. Lagipula yah, gua ga bisa marah dah ama cewek. Serius.
Lalu salah satu teman saya berkata, "Yah ga bisa gitu dong. Lo mesti gentle. Ga kayak gini tau nyeleseinnya."
Teman saya yang satu lagi berkata, "Udah kek putusin aja. Lo sebagai calon imam dalam keluarga harus bisa ngambil keputusan dong."
Setelah saya pikir-pikir, menurut sudut pandang saya, si pacarnya lah yang salah. Ya iyalah orang diajak nyelesein baik-baik malah nolak. Dan tampaknya pacarnya itu sangatlah manja. Saya jadi gerah lama-lama.
Akhirnya setelah perdebatan sengit antara saya dan dia, kata putus itu akhirnya keluar juga.
Kata putus bukanlah akhir dari sebuah hubungan. Melainkan awal dalam menciptakan suatu hubungan. Yakni pertemanan. Time to make friends guys!
Like this posting! Tapi gw capek menunggu waktu buat ngebuktiin kata itu gak sesakral yang kita kira. Gw mau cepet2 bisa jd temen dia kayak dulu, tapi susah. Harus terbiasa. Ya kan?
ReplyDeleteterima kasih. ya memang harus begitu. masalah sakral ngganya, itu cuma pemilihan kata aja. hahahaha.
ReplyDelete