Time: 10:04 am
Weather: A lil' bit Sun
Now Playing: Noise from the Street
Akhirnya
Dan akhirnya saya menulis, kembali. Mencurahkan segala perasaan yang semakin hari semakin berantakan, semakin tidak karuan, semakin berkecamuk, semakin carut marut, semakin membalada dan semakin kalut. Segala perasaan yang bercampur menjadi satu, namun perasaan negatif yang lebih sering bercampur. Memberikan dampak luar biasa besar dalam kehidupan saya. Memberikan perubahan yang sangat signifikan dalam hidup saya.
Ketika hati mengalahkan otak. Ketika hati lebih mengambil porsi besar dalam hidup saya. Ketika emosi mengalahkan logika. Ketika emosi mengambil jatah lebih banyak dalam hidup saya. Ketika id mengalahkan ego. Ketika id itu menyentuh realita bahkan tanpa tersaring sebelumnya oleh super ego.
Ketika saya hanya mau anda. Ketika hanya anda yang berada dalam pikiran saya. Ketika saya hanya mau anda untuk disamping saya. Ketika saya hanya mau menghabiskan waktu dengan anda. Tanpa peduli waktu, tanpa peduli tanggung jawab, tanpa peduli kewajiban dan tanpa peduli prioritas. Mengesampingkan tanggung jawab, mengesampingkan kewajiban dan mengesampingkan prioritas yang sudah dibangun sebelumnya.
I. Give. You. Everything. That. I. Can. Give.
Segala pesan singkat. Segala topik obrolan yang mengalir. Segala waktu yang terhabiskan bersama. Segala perhatian yang tercurah. Segala afeksi fisik. Segala afeksi non fisik. Segala sentuhan. Segala rabaan. Segala rangkulan. Segala pelukan. Segala ciuman. Dan segalanya. Baik itu yang berlandaskan oleh hati, baik itu yang berlandaskan oleh id.
Ketika daya jangkau berpikir menjadi sempit. Ketika diri saya dikendalikan oleh id. Ketika segalanya menjadi candu untuk diri saya. Ketika segalanya menjadi adiktif untuk diri saya. Ketika segalanya menjadi dopamin untuk diri saya. Ketika satu kali tidak pernah menjadi lebih dari cukup.
I. Have. Put. My. Trust. On. You.
I. Wish. You. Do. The. Same. Thing.
Nyatanya, semua itu palsu. Semua itu hanya kepura-puraan. Luar biasa. Luar biasa. Luar biasa. Kamu hebat. Kamu luar biasa. Saya salut dengan anda. Sangat sangat salut.
And the award for the best liar goes to you...........
Dan tiba-tiba anda pergi. Meninggalkan saya dengan segala emosi yang berkecamuk. Meninggalkan saya dengan tanda tanya besar dalam pikiran saya. Meninggalkan saya yang berantakan. Meninggalkan saya yang tidak karuan. Meninggalkan saya dengan, perasaan yang bahkan tidak dapat saya rekognisi, apakah itu penyesalan ataukah tidak.
Dan semua emosi saya tercurah lagi dan lagi. Semua air mata itu, yang sudah tercurah bahkan jauh jauh dari sebelumnya, mengalir lagi dengan deras. Menghabiskan tissue para sahabat yang sudah mau mendengarkan. Menghabiskan waktu para sahabat. Mengganggu kesibukan para sahabat. Cuma, hanya, dan, untuk, anda.
Saya bahkan tidak mengenal diri saya. Saya bahkan tidak mampu mengetahui diri saya. Saya tidak mampu mengontrol diri saya sendiri. Saya bahkan dikalahkan oleh diri saya sendiri. Saya terjatuh terlalu dalam pada lautan perasaan, yang mungkin palsu, milik anda. Saya terjatuh terlalu dalam pada hati anda. Saya tidak bisa bangkit. Saya tidak bisa bangun. Saya tertatih, tertatih dalam buaian perasaan anda, yang mungkin palsu. Semua, cuma, karena, diri, anda.
"Lo itu bego! Lo itu tolol! Stupid! Kalo ada kata-kata yang pantes gue keluarin untuk lo lebih dari itu, pasti gue keluarin. Sayangnya engga ada. Itu kata-kata yang pantes buat lo!"
Ketika saya tidak mendengarkan sekitar saya. Ketika saya tidak mendengarkan sahabat saya. Ketika saya tidak mendengarkan rekan saya. Ketika saya menutup mata, menutup hati, menutup telinga dari orang-orang disekitar saya. Orang-orang disekitar saya yang notabene menyayangi saya, peduli kepada saya, tidak saya hiraukan.
Ketika yang saya pedulikan hanya diri saya, dan yah, anda. Ketika yang saya sayangi hanya diri saya, dan yah, anda. Ketika yang saya dengarkan hanya hati saya, dan yah, anda. Tanpa saya sadari, saya menyakiti diri saya. Saya menyakiti hati saya. Saya menyakiti pikiran saya. Saya menyakiti emosi saya. Saya menyakiti fisik saya. Saya menyakiti batin saya.
I. Fall. Too. Deep.
I. Crush. Too. Hard.
"Gue bukannya engga bisa, tapi gue engga mau. Gue engga mau ngelepasin dia. Gue sayang sama dia......................."
Saya tahu saya salah. Saya tahu saya tidak seharusnya tidak melakukan hal ini. Saya tahu. Saya sadar betul. Saya tahu resiko yang akan saya hadapi. Saya tahu efek sampingnya. Saya tahu beban hati yang akan saya tanggung. Saya tahu dan saya sadar betul. Namun, yah, itu, saya terlalu menutup mata, hati dan telinga saya bahkan dari orang-orang yang peduli dan menyayangi diri saya.
Kejadian itu terjadi begitu cepat. Secepat saya mengerjapkan mata saya. Setelah segala buaian perasaan yang membuai diri saya, setelah segala perasaan yang saling tercurah, setelah segala hal yang terjadi antara saya dan anda selama ini, anda pergi. Yah, anda pergi, dan yah, anda meninggalkan diri saya yang lagi-lagi, berkecamuk, berantakan, tidak karuan.
Mungkin, saya harus jatuh hingga saya berdarah. Mungkin, saya harus menangis hingga air mata saya bahkan tak sanggup jatuh lagi. Mungkin, saya harus tersakit hingga hati saya meradang. Mungkin, saya harus tersakiti hingga sangat sangat tersakiti hingga bahkan yang saya pikirkan hanya hati saya. Mungkin, saya harus tertampar hingga luar biasa sakit. Sehingga saya sadar, bahwa anda bukanlah yang terbaik, bahwa anda bukanlah orang yang tepat, bahwa anda bukanlah orang yang pantas untuk saya, bahwa anda bukan untuk saya, bahwa anda bukanlah orang yang digariskan oleh Tuhan untuk saya.
"Menerima kenyataan itu memang tidak mudah, ndah."
Menerima kenyataan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menerima kenyataan memang tidak semudah bangun ketika anda terjatuh ditangga. Menerima kenyataan tidak semudah menekan tombol delete pada personal computer anda. Namun, saya harus bisa, saya harus mampu. Saya harus bangkit, saya harus bangun. Saya harus menjadi diri yang sebelumnya. Yang sebelum anda datang ke dalam kehidupan saya.
Meskipun saya harus tertatih. Meskipun saya harus meradang. Meskipun saya harus merasakan sakit. Meskipun hal itu tidak mudah. Tapi saya harus. Saya harus melupakan diri anda. Melupakan segala hal yang pernah terjadi antara saya dan anda. Mungkin, tidak sepenuhnya melupakan, saya pun tidak mampu. Biarlah apa yang terjadi antara saya dan anda menjadi memori yang luar biasa indah yang pernah terjadi dalam hidup saya dan anda.
Terima kasih, anda sudah datang dalam hidup saya. Terima kasih, anda sudah mengisi hari-hari saya. Terima kasih, anda sudah mengisi hati saya. Terima kasih, untuk segala hal yang pernah saya dan anda lewati bersama. Terima kasih, sudah membiarkan saya menyayangi diri anda. Terima kasih, sudah membiarkan saya terbuai oleh buaian anda. Terima kasih, telah membiarkan saya berenang dalam lautan perasaan anda. Terima kasih, sudah membiarkan saya memberikan apa yang saya berikan kepada diri anda. Terima kasih, untuk segalanya.
Meskipun anda bukanlah orang yang terbaik yang pernah datang ke dalam hidup saya. Meskipun anda bukanlah orang yang sempurna. Meskipun anda, yah seperti apa adanya diri anda. Saya sangat mensyukuri dan berterima kasih kepada Tuhan dan anda, sudah dipertemukan dengan anda. Saya tidak menyesal pernah dipertemukan kepada anda oleh Tuhan.
Saya menyukai diri anda apa adanya. Saya menyayangi diri anda apa adanya. Terima kasih, atas segalanya. Maaf, mungkin saya tidak sempurna, mungkin saya tidak seperti apa yang anda harapkan, mungkin saya tidak memenuhi keinginan anda. Terima kasih, untuk segalanya.
Saya sayang kamu, din :)
With love, tears & warmth
No comments:
Post a Comment