December 25, 2012

Berulang Kali

Date: Dec 24th
Time: 11.37 pm
Weather: Hot
Now Playing: Taylor Swift – Haunted


Berulang Kali

Berulang kali lagu tersebut termainkan dalam perangkat lunak pemutar musik saya. Berulang kali suara penyanyi country tersebut memenuhi telinga saya. Berulang kali lengkingannya menyakiti hati saya. Sama halnya dengan pertanyaan ini,

“Perasaan apa ini? Saya sendiri pun tidak mampu merekognisi perasaan saya sendiri. Apakah saya masih menginginkan dirinya? Apakah saya masih ingin memiliki dirinya? Apakah saya masih ingin menjadi miliknya? Apakah dirinya masih menginginkan saya? Apakah dirinya masih ingin memiliki diri saya? Apakah saya masih menyayangi dirinya? Apakah dirinya masih menyayangi saya? Apakah ini hanya dorongan? Apakah ini cinta?”

Berulang kali saya bertanya kepada Tuhan. Berulang kali saya bertanya pada hati saya. Berulang kali saya bertanya pada diri saya.

Berulang kali memori antara saya dan anda termainkan dalam pikiran saya. Berulang kali suasana yang terbangun antara saya dan anda saya hadirkan kembali. Berulang kali bayangan tentang anda mengusik pikiran saya. Berulang kali hal yang pernah saya dan anda lalui bersama teringat kembali.

Semua pembicaraan yang pernah mengalir. Semua afeksi fisik yang pernah terjadi. Semua afeksi non-fisik yang pernah terjadi. Segala sentuhan yang hangat. Segala pelukan yang memberikan kenyamanan. Segala pesan singkat yang pernah terkirim. Segala waktu berkualitas yang pernah saya dan anda habiskan bersama. Segala malam yang dilalui bersama. Segala aktifitas yang pernah saya dan anda lakukan.

Saya disini, terlarut dalam perasaaan rindu yang begitu dalam. Perasaan rindu yang tidak dengan mudah dapat tersampaikan. Dorongan rindu yang tidak dapat dengan mudah terpuaskan. Rembesan air mata yang kian menumpuk lalu akhirnya jatuh pada jari saya yang mengetikkan narasi kerinduan ini sepertinya cukup menggambarkan betapa besar rasa rindu saya. Air mata yang sudah sekian minggu tidak lagi jatuh, malam ini terjatuh kembali.

“Hai kamu, apa kabarmu? Apakah kamu baik-baik saja? Apa yang kamu lakukan seharian ini? Sudah makan belum? Jangan lupa makan. Jangan tidur malam-malam. Istirahat yang cukup. Jangan lupa shalat. Awas subuhnya jangan kesiangan.”

Ingin rasanya semua pertanyaan dan pernyataan itu saya sampaikan kepadamu. Ingin rasanya semua pertanyaan dan pernyataan tersebut kamu jawab. Ingin rasanya pembicaraan tersebut mengalir sehingga saya dan anda berbincang kembali.

Berulang kali saya bertanya pada diri saya. Berulang kali orang-orang di sekitar saya bertanya kepada saya. Berulang kali pula saya bertanya kepada Tuhan. Berulang kali juga anda bertanya kepada saya. Apa daya tarik anda? Apa yang membuat anda terlihat sebegitu menariknya di mata hati saya? Namun berulang kali pula saya tidak mampu menjawab. Berulang kali pula saya memberikan jawaban yang sama. Berulang kali pula saya memberikan gestur yang sama. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang membuat aku menyukai dan menyayangi dirimu. Mungkin….. segalanya dalam dirimu.”

Dan air mata itu kembali terjatuh. Membayangkan memori yang pernah terjadi antara saya dan anda. Membangunkan ingatan mengenai saya dan anda. Saya rindu anda. Saya merindukan segala waktu yang terhabiskan bersama. Saya merindukan segala afeksi fisik dan non-fisik yang pernah terjadi antara saya dan anda. Saya ingin berada disamping anda. 

Saya ingin menghabiskan waktu bersama anda. Saya rindu anda.
Sebut saya gila. Sebut saya bodoh. Sebut saya gagal move-on. Namun inilah perasaan saya.

Saya rindu kamu, din.
Dan saya sayang kamu.

No comments:

Post a Comment