Date: Dec 24th
Time: 11.37 pm
Weather: Hot
Now Playing: Taylor Swift – Haunted
Berulang Kali
Berulang kali lagu tersebut termainkan dalam perangkat
lunak pemutar musik saya. Berulang kali suara penyanyi country tersebut
memenuhi telinga saya. Berulang kali lengkingannya menyakiti hati saya. Sama
halnya dengan pertanyaan ini,
“Perasaan apa ini? Saya sendiri pun tidak mampu
merekognisi perasaan saya sendiri. Apakah saya masih menginginkan dirinya?
Apakah saya masih ingin memiliki dirinya? Apakah saya masih ingin menjadi
miliknya? Apakah dirinya masih menginginkan saya? Apakah dirinya masih ingin
memiliki diri saya? Apakah saya masih menyayangi dirinya? Apakah dirinya masih
menyayangi saya? Apakah ini hanya dorongan? Apakah ini cinta?”
Berulang kali saya bertanya kepada Tuhan. Berulang kali
saya bertanya pada hati saya. Berulang kali saya bertanya pada diri saya.
Berulang kali memori antara saya dan anda termainkan
dalam pikiran saya. Berulang kali suasana yang terbangun antara saya dan anda
saya hadirkan kembali. Berulang kali bayangan tentang anda mengusik pikiran
saya. Berulang kali hal yang pernah saya dan anda lalui bersama teringat
kembali.
Semua pembicaraan yang pernah mengalir. Semua afeksi
fisik yang pernah terjadi. Semua afeksi non-fisik yang pernah terjadi. Segala
sentuhan yang hangat. Segala pelukan yang memberikan kenyamanan. Segala pesan
singkat yang pernah terkirim. Segala waktu berkualitas yang pernah saya dan
anda habiskan bersama. Segala malam yang dilalui bersama. Segala aktifitas yang
pernah saya dan anda lakukan.
Saya disini, terlarut dalam perasaaan rindu yang begitu
dalam. Perasaan rindu yang tidak dengan mudah dapat tersampaikan. Dorongan
rindu yang tidak dapat dengan mudah terpuaskan. Rembesan air mata yang kian
menumpuk lalu akhirnya jatuh pada jari saya yang mengetikkan narasi kerinduan
ini sepertinya cukup menggambarkan betapa besar rasa rindu saya. Air mata yang
sudah sekian minggu tidak lagi jatuh, malam ini terjatuh kembali.
“Hai kamu, apa kabarmu? Apakah kamu baik-baik saja? Apa yang
kamu lakukan seharian ini? Sudah makan belum? Jangan lupa makan. Jangan tidur
malam-malam. Istirahat yang cukup. Jangan lupa shalat. Awas subuhnya jangan
kesiangan.”
Ingin rasanya semua pertanyaan dan pernyataan itu saya
sampaikan kepadamu. Ingin rasanya semua pertanyaan dan pernyataan tersebut kamu
jawab. Ingin rasanya pembicaraan tersebut mengalir sehingga saya dan anda
berbincang kembali.
Berulang kali saya bertanya pada diri saya. Berulang kali
orang-orang di sekitar saya bertanya kepada saya. Berulang kali pula saya
bertanya kepada Tuhan. Berulang kali juga anda bertanya kepada saya. Apa daya
tarik anda? Apa yang membuat anda terlihat sebegitu menariknya di mata hati
saya? Namun berulang kali pula saya tidak mampu menjawab. Berulang kali pula saya
memberikan jawaban yang sama. Berulang kali pula saya memberikan gestur yang
sama. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang membuat aku menyukai dan
menyayangi dirimu. Mungkin….. segalanya dalam dirimu.”
Dan air mata itu kembali terjatuh. Membayangkan memori yang
pernah terjadi antara saya dan anda. Membangunkan ingatan mengenai saya dan
anda. Saya rindu anda. Saya merindukan segala waktu yang terhabiskan bersama.
Saya merindukan segala afeksi fisik dan non-fisik yang pernah terjadi antara
saya dan anda. Saya ingin berada disamping anda.
Saya ingin menghabiskan waktu
bersama anda. Saya rindu anda.
Sebut saya gila. Sebut saya bodoh. Sebut saya gagal
move-on. Namun inilah perasaan saya.
Saya rindu kamu, din.
Dan saya sayang kamu.
No comments:
Post a Comment