Hello!
Secara tiba-tiba lagi ingin menulis. Sebenarnya sih dikarenakan adanya artikel tautan
yang dibagi oleh teman melalui media sosial dan saya rasanya gatal untuk
mengomentari artikel tersebut. Judul artikelnya adalah “5 Alasan Kenapa Pacaran Sama Anak Psikologi Gak Enak.” Dengan judul seperti itu bukan berarti tulisan
saya ini proyeksi keadaan diri saya. Sebenarnya artikel itu menghibur kok, bagi saya dan teman-teman saya yang
memang menuntut ilmu di jurusan psikologi. Namun daripada menimbulkan fallacy pada orang-orang awam, yang
mungkin salah satu diantaranya adalah jodoh saya, jadilah saya menuliskan
komentar saya atas artikel tersebut. Mari kita mulai.
1. Kepekaannya Tinggi
Memang masalah kepekaan ini dibutuhkan dalam pekerjaan
nantinya seperti psikologi. Selain itu kepekaan ini juga dilatih dalam
perkuliahan, praktikum, ataupun kehidupan perkuliahan. Namun bukan berarti
mudah untuk curiga dan semua yang berkuliah di psikologi peka. Saya sendiri
termasuk ke dalam kategori yang tidak peka dan tidak mudah curiga sama orang. Selain
itu mengenai perilaku yang aneh dan memprediksi ke depannya, balik lagi ke yang
sebelumnya. Percayalah bahwa tidak semuanya anak psikologi peka dan mudah
curigaan. Buktinya saya tidak begitu, tapi bisa jadi yang begitu Cuma saya saja
ya….
2. Suka Pake Jargon
Nah ini! Karena kita belajar tentang gangguan jiwa ya memang
tanpa disadari jadi terbawa ke kehidupan nyata. Percayalah, bahwa tidak semua
orang gila itu sama. Ada yang schizophrenia,
entah itu yang katatonik ataupun hiberfrenik, psychopath, ataupun sociopath
(ini bisa di googling saja kalau
penasaran). Dan ini dipelajari dalam beberapa semester, jadi ya menurut saya
wajar saja kalau terkesan suka pakai jargon dan tidak mudah melabeli seseorang.
3. Interogasinya Dalem Banget
Hmm istilah kepo
mungkin lebih familiar sepertinya ya. Namun sebenarnya ini lebih ke bagaimana
cara bertanyanya kok. Ada orang yang memang sebenarnya tidak kepo namun dengan
cara bertanya yang tepat dia bisa mendapatkan banyak informasi. Ada yang memang
cara bertanyanya terkesan kepo dan mau tahu banget sehingga kesannya banyak
bertanya. Selain itu kita juga bisa memposisikan diri, apakah sebagai pendengar
atau pemberi solusi. Karena tidak semua orang yang curhat itu membutuhkan
solusi, adakalanya memang Cuma ingin didengarkan. Kalau butuh solusi ya mau
tidak mau akan jadi bertanya balik.
4. Capek Kalo Diminta Bantuin Tugas
Kalau yang ini kayaknya kecil kemungkinan deh. Memang sih textbook psikologi mayoritas bahasa inggris. Namun saya pribadi
memang lebih memilih textbook bahasa inggris daripada yang bahasa Indonesia,
karena biasanya hasil translatenya malah aneh dan jadi sulit untuk dipahami.
Terus memang ada beberapa istilah dalam psikologi yang memang tidak cocok
diartikan dalam bahasa Indonesia. Bukunya berat, ya memang! Haha. Tebal-tebal
dan saya pribadi sebenarnya juga jarang bawa buku. Namun tidak semua perempuan
di psikologi itu suka bawa buku berat dan tebal lalu minta tolong pacarnya
bawain ataupun minta tolong pacarnya bantuin nugas. Biasanya sih
paling minta diantar jemput saja ke kosan teman untuk nugas…..
5. Subjek Gratisan Kalau Beli Alat Tes Baru
Ini mesti diluruskan, mahasiswa psikologi itu tidak beli alat
tes, karena yang bisa membeli alat tes psikologi itu mereka yang sudah doktor (S3).
Mahasiswa psikologi juga harus disupervisi oleh psikolog dalam mempergunakan
alat tes. Mungkin maksudnya jadi subjek penelitian anak psikologi ya.. Di
psikologi memang banyak sekali praktikum yang membutuhkan subjek penelitian.
Ada kalanya subjek penelitian diambil dari orang non-psikologi. Sebenarnya sih enaknya kalau punya pacar, apalagi
bukan anak psikologi, bisa dimintai tolong untuk jadi subjek penelitian saat
praktikum. Biasanya kita juga kasih reward
kok untuk mereka yang bersedia jadi subjek penelitian. Kalau sama pacar kan tidak perlu dibayarin makan atau
apa, cukup dikasih cinta dan kasih sayang saja jadi lebih hemat kantong begitu…..
No comments:
Post a Comment