November 7, 2014

Komentar

Hello!

Secara tiba-tiba lagi ingin menulis. Sebenarnya sih dikarenakan adanya artikel tautan yang dibagi oleh teman melalui media sosial dan saya rasanya gatal untuk mengomentari artikel tersebut. Judul artikelnya adalah “5 Alasan Kenapa Pacaran Sama Anak Psikologi Gak Enak.” Dengan judul seperti itu bukan berarti tulisan saya ini proyeksi keadaan diri saya. Sebenarnya artikel itu menghibur kok, bagi saya dan teman-teman saya yang memang menuntut ilmu di jurusan psikologi. Namun daripada menimbulkan fallacy pada orang-orang awam, yang mungkin salah satu diantaranya adalah jodoh saya, jadilah saya menuliskan komentar saya atas artikel tersebut. Mari kita mulai.


1. Kepekaannya Tinggi

Memang masalah kepekaan ini dibutuhkan dalam pekerjaan nantinya seperti psikologi. Selain itu kepekaan ini juga dilatih dalam perkuliahan, praktikum, ataupun kehidupan perkuliahan. Namun bukan berarti mudah untuk curiga dan semua yang berkuliah di psikologi peka. Saya sendiri termasuk ke dalam kategori yang tidak peka dan tidak mudah curiga sama orang. Selain itu mengenai perilaku yang aneh dan memprediksi ke depannya, balik lagi ke yang sebelumnya. Percayalah bahwa tidak semuanya anak psikologi peka dan mudah curigaan. Buktinya saya tidak begitu, tapi bisa jadi yang begitu Cuma saya saja ya….

2. Suka Pake Jargon

Nah ini! Karena kita belajar tentang gangguan jiwa ya memang tanpa disadari jadi terbawa ke kehidupan nyata. Percayalah, bahwa tidak semua orang gila itu sama. Ada yang schizophrenia, entah itu yang katatonik ataupun hiberfrenik, psychopath, ataupun sociopath (ini bisa di googling saja kalau penasaran). Dan ini dipelajari dalam beberapa semester, jadi ya menurut saya wajar saja kalau terkesan suka pakai jargon dan tidak mudah melabeli seseorang.

3. Interogasinya Dalem Banget

Hmm istilah kepo mungkin lebih familiar sepertinya ya. Namun sebenarnya ini lebih ke bagaimana cara bertanyanya kok. Ada orang yang memang sebenarnya tidak kepo namun dengan cara bertanya yang tepat dia bisa mendapatkan banyak informasi. Ada yang memang cara bertanyanya terkesan kepo dan mau tahu banget sehingga kesannya banyak bertanya. Selain itu kita juga bisa memposisikan diri, apakah sebagai pendengar atau pemberi solusi. Karena tidak semua orang yang curhat itu membutuhkan solusi, adakalanya memang Cuma ingin didengarkan. Kalau butuh solusi ya mau tidak mau akan jadi bertanya balik.

4. Capek Kalo Diminta Bantuin Tugas

Kalau yang ini kayaknya kecil kemungkinan deh. Memang sih textbook psikologi mayoritas bahasa inggris. Namun saya pribadi memang lebih memilih textbook bahasa inggris daripada yang bahasa Indonesia, karena biasanya hasil translatenya malah aneh dan jadi sulit untuk dipahami. Terus memang ada beberapa istilah dalam psikologi yang memang tidak cocok diartikan dalam bahasa Indonesia. Bukunya berat, ya memang! Haha. Tebal-tebal dan saya pribadi sebenarnya juga jarang bawa buku. Namun tidak semua perempuan di psikologi itu suka bawa buku berat dan tebal lalu minta tolong pacarnya bawain ataupun minta tolong pacarnya bantuin nugas. Biasanya sih paling minta diantar jemput saja ke kosan teman untuk nugas…..

5. Subjek Gratisan Kalau Beli Alat Tes Baru

Ini mesti diluruskan, mahasiswa psikologi itu tidak beli alat tes, karena yang bisa membeli alat tes psikologi itu mereka yang sudah doktor (S3). Mahasiswa psikologi juga harus disupervisi oleh psikolog dalam mempergunakan alat tes. Mungkin maksudnya jadi subjek penelitian anak psikologi ya.. Di psikologi memang banyak sekali praktikum yang membutuhkan subjek penelitian. Ada kalanya subjek penelitian diambil dari orang non-psikologi. Sebenarnya sih enaknya kalau punya pacar, apalagi bukan anak psikologi, bisa dimintai tolong untuk jadi subjek penelitian saat praktikum. Biasanya kita juga kasih reward kok untuk mereka yang bersedia jadi subjek penelitian. Kalau sama pacar kan tidak perlu dibayarin makan atau apa, cukup dikasih cinta dan kasih sayang saja jadi lebih hemat kantong begitu…..

No comments:

Post a Comment