March 18, 2015

I’m Not a Really Good Friend

Sebenarnya ini hasil perbincangan dengan salah seorang sahabat yang, tadinya, mau ditulis namun baru sempat sekarang. Hehe. Waktu itu saya dan dia membahas tipe teman seperti apa kami ini. Well, teman itu banyak jenisnya. Mungkin kalian tahu itu. Namun disini saya bukan ingin membahas mengenai tipe-tipe teman tapi membahas mengenai teman seperti apakah saya ini. Teman seperti apakah saya? Let’s see how I describe myself.

I will look for someone if I need them.

Yes, it’s our basic instinct as a human. Manusia akan mencari sesuatu jika sedang butuh, apapun itu. Sedang lapar, ya mencari makan. Sedang haus, ya mencari minum. Sedang butuh perhatian, ya cari orang yang mau memperhatikan. As simple like that. Begitupula dalam pertemanan. Saya akan mencari seseorang ketika sedang butuh. Sedang galau, butuh pendapat atau butuh sekedar teman untuk berbincang, ya saya akan cari teman. And I don’t mind if my friend(s) do the same. Selama saya bisa, apapun akan saya bantu. Tengah malam ingin ngobrol, kalau saya belum tidur dan tidak ada hal yang dikerjakan, silahkan saja. Mau curhat sambil nangis-nangis, silahkan saja. Minta ditemani cari kado untuk pacar, selama saya tidak ada kerjaan silahkan saja. Asal tidak disuruh menemani kencan dan jadi orang ketiga saja. Kalau untuk itu saya tidak bersedia.


I won’t help, unless you ask first.

Kalau tidak bilang butuh bantuan seperti apa, bagaimana saya bisa bantu? Kalau bantuannya tidak jelas, pada akhirnya saya hanya akan bilang, “semangat ya.” Basa basi sekali. Butuh doa? Insya Allah saya doakan. Butuh dukungan? Selama yang dilakukan adalah hal yang baik, positif dan tidak melanggar nilai dan norma akan saya dukung.

Why?

Karena saya orangnya tidak bisa dikodein. What a shame, huh? Saya orangnya tidak bisa dikodein, tapi punya hobi memberikan kode. Saya orangnya tidak peka, tapi ingin orang tahu kondisi saya tanpa saya harus bilang. Ya, saya memang banyak maunya. Maka dari itu jika butuh sesuatu dari saya, entah tenaga, waktu, telinga, ya bilang saja. It doesn’t matter.

I’m not a really good friend.

How to say it, yah? Maksudnya lebih ke, saya bukan teman yang perhatian. Bertanya kabar, sedang sibuk apa, apa kabar keluarga, sudah punya pacar belum, dan sebagainya, adalah hal yang jarang saya lakukan. Kalaupun ya, itu biasanya karena tidak sengaja terpikirkan dan jadi ingin tahu kabar seseorang. Scroll down my social media line and find out that you’re still updating is enough for me. Kalaupun ingin tahu lebih lanjut, saya lebih senang bertemu face to face untuk cerita banyak hal daripada lewat jejaring sosial.
Permasalahan yang sifatnya sensitif pun biasanya akan jarang saya tanyakan. Misalnya, mengenai tugas akhir, kapan wisuda, atau sudah punya pacar apa belum. Kalaupun pada akhirnya ditanyakan, hal itu biasanya terjadi setelah proses probing terlebih dahulu atau memang orangnya yang membahas duluan.

And the point is….

I think I’m not a really good friend. Haha. Tapi yakinlah, kalau butuh apapun dari saya, kalau masih bisa saya penuhi akan saya bantu. Asalkan bilang. Selama kebutuhannya masuk akal akan saya bantu. Kalau tidak masuk akal, mungkin saya akan berpikir dua kali atau langsung menolak. Just remember that I’ll be there for you J

No comments:

Post a Comment