Sebenarnya ini hasil perbincangan dengan salah seorang
sahabat yang, tadinya, mau ditulis namun baru sempat sekarang. Hehe. Waktu itu
saya dan dia membahas tipe teman seperti apa kami ini. Well, teman itu banyak jenisnya. Mungkin kalian tahu itu. Namun disini
saya bukan ingin membahas mengenai tipe-tipe teman tapi membahas mengenai teman
seperti apakah saya ini. Teman seperti apakah saya? Let’s see how I describe myself.
I will look for someone
if I need them.
Yes, it’s our basic instinct
as a human. Manusia akan mencari sesuatu jika sedang butuh, apapun itu. Sedang
lapar, ya mencari makan. Sedang haus, ya mencari minum. Sedang butuh perhatian,
ya cari orang yang mau memperhatikan. As simple
like that. Begitupula dalam pertemanan. Saya akan mencari seseorang ketika
sedang butuh. Sedang galau, butuh pendapat atau butuh sekedar teman untuk
berbincang, ya saya akan cari teman. And I
don’t mind if my friend(s) do the same. Selama saya bisa, apapun akan saya
bantu. Tengah malam ingin ngobrol, kalau saya belum tidur dan tidak ada hal
yang dikerjakan, silahkan saja. Mau curhat sambil nangis-nangis, silahkan saja.
Minta ditemani cari kado untuk pacar, selama saya tidak ada kerjaan silahkan
saja. Asal tidak disuruh menemani kencan dan jadi orang ketiga saja. Kalau untuk
itu saya tidak bersedia.
I won’t help, unless
you ask first.
Kalau tidak bilang butuh bantuan seperti apa, bagaimana saya
bisa bantu? Kalau bantuannya tidak jelas, pada akhirnya saya hanya akan bilang,
“semangat ya.” Basa basi sekali. Butuh doa? Insya Allah saya doakan. Butuh dukungan?
Selama yang dilakukan adalah hal yang baik, positif dan tidak melanggar nilai
dan norma akan saya dukung.
Why?
Karena saya orangnya tidak bisa dikodein. What a shame, huh? Saya orangnya tidak
bisa dikodein, tapi punya hobi memberikan kode. Saya orangnya tidak peka, tapi
ingin orang tahu kondisi saya tanpa saya harus bilang. Ya, saya memang banyak
maunya. Maka dari itu jika butuh sesuatu dari saya, entah tenaga, waktu,
telinga, ya bilang saja. It doesn’t matter.
I’m not a really good
friend.
How to say it, yah? Maksudnya lebih ke, saya bukan teman
yang perhatian. Bertanya kabar, sedang sibuk apa, apa kabar keluarga, sudah
punya pacar belum, dan sebagainya, adalah hal yang jarang saya lakukan. Kalaupun
ya, itu biasanya karena tidak sengaja terpikirkan dan jadi ingin tahu kabar
seseorang. Scroll down my social media
line and find out that you’re still updating is enough for me. Kalaupun
ingin tahu lebih lanjut, saya lebih senang bertemu face to face untuk cerita banyak hal daripada lewat jejaring
sosial.
Permasalahan yang sifatnya sensitif pun biasanya akan jarang
saya tanyakan. Misalnya, mengenai tugas akhir, kapan wisuda, atau sudah punya
pacar apa belum. Kalaupun pada akhirnya ditanyakan, hal itu biasanya terjadi
setelah proses probing terlebih
dahulu atau memang orangnya yang membahas duluan.
And the point is….
I think I’m not a
really good friend. Haha. Tapi yakinlah, kalau butuh apapun dari saya,
kalau masih bisa saya penuhi akan saya bantu. Asalkan bilang. Selama kebutuhannya
masuk akal akan saya bantu. Kalau tidak masuk akal, mungkin saya akan berpikir
dua kali atau langsung menolak. Just remember that I’ll be there for you J
No comments:
Post a Comment