November 12, 2014

Happy Father’s Day!

Seharian ini lihat postingan tentang ayah di jejaring sosial yang cukup hits pada masa kini. Mulai dari post foto ayahnya, foto bersama ayah, atau listening to lagu ADA Band yang Terbaik Bagimu. Berhubung saya tidak punya foto dengan Ayah saya yang baru, kalau pas masih kecil sih di rumah banyak, namun kan saya di kosan, jadi bisanya ya menulis! Hihi.

Let’s begin with the story between me and my dad.

Jujur saja, hubungan saya dengan Papah, begitu saya memanggilnya tidak begitu dekat. Padahal kan biasanya kalau anak pertama itu lebih dekat dengan Ayahnya. Namun saya tidak begitu. Hubungan saya dengan Papah cenderung biasa saja. Memang saya suka berbincang dengan beliau saat sedang makan ataupun berkumpul di ruang keluarga, namun yang diperbincangkan pasti tidak pernah jauh-jauh dari masalah akademik dan agama. Beliau kerap kali bertanya mengenai bagaimana kuliah saya, nilainya bagaimana, kegiatan saya di kampus apa saja, hubungan dengan teman dan dosen, sudah sholat ataukah belum, mengingatkan untuk puasa ataupun mengaji. Hanya sebatas itu saja. Tidak seperti hubungan saya dengan Mamah yang sangat dekat dan bisa cerita apa saja.

Saya menyadari hubungan saya dengan Papah memang tidak begitu dekat ketika sedang ada praktikum di kampus. Pada saat praktikum itu saya berpasangan dengan rekan saya dan praktikumnya dengan metode wawancara. Ada pertanyaan mengenai relasi dengan Ayah. Entah mengapa ketika pertanyaan itu terlontar saya mendadak menangis dan seketika teringat dengan Papah. Disitu saya menyadari bahwa hubungan saya dengan Papah tidak begitu dekat. Namun meskipun begitu, saya sayang sekali dengan Papah.

Papah memang tidak sebegitu perhatiannya seperti Mamah. Papah menunjukkan perhatiannya dengan cara yang berbeda. Papah selalu setia menjemput saya setiap saya pulang ke Jakarta pada jam kapanpun, entah itu malam sekalipun Papah pasti akan jemput dan mengajak makan. Papah selalu setia mengantar saya kemana saja, mulai dari wawancara untuk magang sampai urusan liputan kerjaan magang saya. Papah selalu mengingatkan saya untuk tetap ingat Allah dengan sholat, puasa dan amalan lainnya. Papah selalu memberikan materi yang saya butuhkan kapanpun saya minta, memang sih saya juga mintanya ketika sedang kepepet, tapi Papah selalu kasih. Betapa ia sangat sayang saya.

Memang saya terkadang bandel tidak mau menuruti beliau. Suka tidak langsung  sholat ketika adzan, malas diajak pergi pengajian (but seriously, saya memang lebih suka ngaji sendiri daripada beramai-ramai), suka lupa kalau disuruh membayar zakat dari penghasilan yang saya dapat, suka tidak nurut dengan komentar beliau yang menyuruh saya ganti baju karena terlalu pendek atau terbuka dan hal-hal lain yang mungkin membuat beliau sedikit kecewa. Namun beliau tetap sayang dan memberikan perhatiannya pada saya.

Saya minta maaf Pah seringkali tidak menuruti perkataanmu. Saya akan terus berusaha untuk menjadi anak yang berbakti kepadamu, membanggakanmu, menjadi yang terbaik bagimu dan tidak akan mengecewakanmu. Saya mohon doa restumu untuk segala macam hal yang saya lakukan untukmu. 

Saya sayang Papah :) 

No comments:

Post a Comment